Berdayakan Umat, Ketum BKPRMI Jombang Paparkan 7 Strategi Transformasi Organisasi di Pengajian Al-Kahfi
Ustadz Imam HidayatVirtual Zoom - Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPD BKPRMI) Kabupaten Jombang, Imam Hidayat, menekankan pentingnya eksekusi nyata dalam mengelola organisasi islam. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan tausiyah dalam acara Pengajian Al-Kahfi BKPRMI yang diselenggarakan secara virtual pada Jumat pagi (10/7/2026).
Dalam pemaparannya, Imam Hidayat mengajak seluruh kader untuk tidak hanya terjebak dalam tataran teori, melainkan harus mampu mengeksplorasi potensi internal organisasi dan mengeksekusinya menjadi program yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana kaum berada (orang kaya) mendistribusikan kegiatan sosial mereka agar berdampak langsung pada kesejahteraan umat.
SC Pengajian Al-Kahfi BKPRMI
“Kita harus melihat ke dalam organisasi kita, lalu merumuskan apa yang bisa kita lakukan, dan mengeksekusinya dengan baik,” ujar Imam.
Lebih lanjut, Imam membedah konsep well-being theory (teori kesejahteraan). Menurutnya, indikator kesuksesan sebuah peradaban tidak hanya diukur dari aspek materi atau ekonomi semata, melainkan dari kualitas hidup yang mencakup kesehatan mental, hubungan sosial yang harmonis, makna hidup, kebahagiaan, serta kesejahteraan spiritual.
“Rasulullah SAW saat membangun Madinah tidak semata-mata mengandalkan penguatan ekonomi masyarakat. Beliau mendahulukan pembangunan iman, akhlak, rasa aman, persaudaraan, dan optimisme. Langkah ini menjadi fondasi utama dalam membangun manusia seutuhnya,” jelasnya.
Imam juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan melalui pendekatan masyarakat dan alam. Dalam konsep regenerative development (pembangunan generatif), ia menegaskan bahwa keuntungan ekonomi tidak boleh mengorbankan alam tempat tinggal manusia. Fokus utama dari konsep baru ini adalah memperbaiki apa yang telah rusak, seperti memberdayakan masyarakat melalui penghijauan lahan kritis, serta memperbaiki sektor pendidikan dan ekonomi lokal.
Merujuk pada sejarah, ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, langkah yang diambil tidak hanya membangun Masjid Nabawi. Rasulullah secara visioner membangun pasar, merekatkan persaudaraan antarkaum, menata sistem ekonomi, membentuk tata pemerintahan, serta mendirikan institusi pendidikan guna melahirkan generasi terbaik.
Dalam konteks manajemen organisasi modern, Imam mengenalkan konsep ekosistem pentahelix. Sistem ini melibatkan sinergi antara pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media untuk bersama-sama membangun kemakmuran masjid serta pemerintahan yang akuntabel. Bentuk nyatanya bisa berupa pelatihan berbayar, pendirian Baitulmal, hingga penyediaan layanan konsultasi yang berorientasi pada dampak nyata.
Di akhir tausiyahnya, Imam Hidayat merangkum tujuh pilar penting agar BKPRMI dapat tumbuh menjadi organisasi yang luar biasa di tengah masyarakat:
- Visi Bersama (Shared Vision): Menyatukan seluruh anggota dalam satu tujuan besar, berkaca pada cara Rasulullah menyatukan masyarakat Madinah.
- Pemberdayaan Kader: Melahirkan kader-kader tangguh yang berkompeten di berbagai bidang, termasuk politik dan sosial.
- Kepemimpinan Melayani (Servant Leadership): Pemimpin harus hadir sebagai pelayan umat agar roda organisasi berjalan berkelanjutan tanpa ketergantungan pada satu tokoh saja.
- Kemandirian Finansial: Membangun model bisnis sosial yang sehat dan produktif agar organisasi tidak mandek.
- Kolaborasi Multisektor: Membuka ruang kerja sama yang luas dengan berbagai pihak (pentahelix).
- Berorientasi pada Dampak (Impact-Oriented): Setiap program kerja harus dievaluasi dampaknya terhadap anggota, organisasi, masyarakat, dan lingkungan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
- Keberlanjutan Alam: Menjaga keseimbangan ekologi dalam setiap program yang dijalankan.
Acara yang berlangsung interaktif ini juga membuka ruang diskusi mendalam. Perwakilan pengurus dari wilayah lain, termasuk Ketua BKPRMI Yogyakarta, Bang Adi Wibowo, menyatakan ketertarikannya untuk berbagi pengalaman dan berkolaborasi lebih lanjut di luar forum guna menerapkan strategi-strategi tersebut ke dalam aksi nyata di lingkungan majelis taklim dan ibu-ibu pengajian yang biasanya responsif terhadap program pemberdayaan ekonomi lokal. (Bunda Tri)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar