Ketum BKPRMI: Sinergi Masjid, Pemuda, dan Negara Kunci Indonesia Hadapi Krisis Global
Jakarta – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPP BKPRMI), Nanang Mubarok, menegaskan pentingnya reposisi strategis Indonesia di tengah eskalasi krisis global yang kian mengkhawatirkan.
Menurutnya, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar pasar global menjadi pemain utama yang menentukan arah peradaban dunia.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (24/3), Nanang menyoroti data global yang menunjukkan dunia sedang mengalami keretakan sistemik. Tercatat lebih dari 240.000 kematian akibat konflik bersenjata dalam setahun terakhir, serta 117 juta orang terpaksa mengungsi.
Kondisi ini diperparah dengan ketimpangan ekonomi ekstrem, di mana satu persen orang terkaya menguasai puluhan triliun dolar kekayaan dunia.
"Ini bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis moral global. Indonesia dengan populasi Muslim terbesar memiliki legitimasi moral untuk tampil sebagai penyeimbang, bukan sekadar penonton atau pasar bagi kekuatan global," ujar Nanang.
Momentum Idulfitri dan Peran Masjid
Nanang mengajak masyarakat untuk memaknai Idulfitri lebih dari sekadar ritual spiritual personal. Ia menilai Idulfitri adalah momentum "reset kolektif" untuk meluruskan arah bangsa dan memperkuat keberpihakan pada kemanusiaan.
Ia juga menekankan reorientasi fungsi masjid. Di tengah dunia yang kehilangan arah, masjid harus bertransformasi menjadi pusat literasi geopolitik, advokasi kemanusiaan, dan penguatan ekonomi berbasis keadilan. "Masjid tidak boleh diam saat 80 persen pengungsi dunia berasal dari wilayah konflik. Masjid harus menjadi suara bagi mereka yang tertindas," tegasnya.
Bonus Demografi dan Keberanian Negara
Terkait bonus demografi, BKPRMI mengingatkan bahwa energi pemuda bisa menjadi "bom waktu" jika tidak diarahkan dengan kesadaran geopolitik yang kuat. Nanang menekankan bahwa pemuda masjid harus menjadi agen perubahan dan motor ekonomi umat guna menjaga keutuhan bangsa dari arus disinformasi global.
Di sisi lain, ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan kelas politik luar negeri "bebas aktif" menjadi lebih berani secara moral. Menurutnya, netralitas tanpa keberpihakan pada keadilan adalah bentuk ketidakpedulian.
"Negara harus tegas dalam diplomasi kemanusiaan dan memperkuat kemandirian ekonomi agar tidak sekadar menjadi arena perebutan pengaruh. Sinergi antara masjid, pemuda, dan negara adalah satu-satunya jalan untuk merajut kembali fitrah bangsa di tengah dunia yang sedang membara," tutup Nanang. (Bunda Tri)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar