81 TAHUN MERDEKA, MASIHKAH ANAK INDONESIA BUTA AKSARA AL-QUR’AN?
Refleksi Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo dan Agenda Besar Pemuda Masjid
Oleh: H. Nanang Mubarok, S.H.I., M.Sos., CPHCM, CPE, CPM
Ketua Umum DPP BKPRMI
Indonesia telah 81 tahun merdeka.
Merah Putih telah berkibar di seluruh pelosok negeri. Sekolah berdiri di berbagai daerah. Teknologi berkembang sangat cepat. Anak-anak Indonesia semakin mudah mengakses informasi dari seluruh dunia.
Tetapi di tengah kemajuan itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:
Sudahkah seluruh anak Indonesia benar-benar merdeka dari buta aksara Al-Qur’an?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan pemerintah, sekolah, keluarga, guru mengaji, apalagi anak-anak kita. Ini adalah pertanyaan reflektif tentang kualitas kemerdekaan dan pembangunan manusia Indonesia.
Sebab kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti bebas dari kebodohan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, dan segala bentuk kondisi yang menghalangi manusia untuk berkembang menjadi pribadi yang utuh.
Dan bagi mayoritas masyarakat Muslim Indonesia, kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bagian penting dari literasi keagamaan dan pembentukan karakter.
Angka 65 Persen: Sebuah Alarm, Bukan Sekadar Statistik
Salah satu angka yang selama bertahun-tahun banyak dikutip dalam pembahasan literasi Al-Qur’an adalah sekitar 65 persen umat Islam Indonesia mengalami buta aksara Al-Qur’an.
Angka tersebut antara lain dikutip dalam publikasi Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Dalam sebuah pemaparan hasil riset, IIQ menyebut angka buta aksara Al-Qur’an berada pada kisaran 58,57 persen hingga 65 persen.
Angka 65 persen juga muncul dalam artikel ilmiah Muaddib: Islamic Education Journal tahun 2020 yang secara khusus menganalisis implementasi pemberantasan buta aksara Al-Qur’an di Indonesia. Artikel tersebut menyebut 65 persen umat Islam Indonesia masih mengalami buta aksara Al-Qur’an dan mengidentifikasi keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah sebagai unsur penting dalam penyelesaiannya.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara akademis dan proporsional.
Ia bukan angka sensus nasional terbaru yang secara khusus mengukur seluruh anak Indonesia. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai indikator atau alarm yang berasal dari riset dan sumber yang telah dipublikasikan, bukan sebagai klaim bahwa tepat 65 persen anak Indonesia saat ini tidak mampu membaca Al-Qur’an.
Justru karena belum tersedianya satu basis data nasional yang mutakhir, terstandar dan terintegrasi mengenai kemampuan baca Al-Qur’an penduduk Muslim Indonesia, maka pekerjaan rumah kita menjadi semakin jelas:
Indonesia membutuhkan pemetaan nasional literasi Al-Qur’an yang lebih akurat.
Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai apakah angkanya 65 persen, 50 persen, atau lebih rendah. Yang jauh lebih penting adalah memastikan berapa anak dan remaja yang belum mampu membaca Al-Qur’an, di mana mereka berada, mengapa mereka belum mampu, dan apa intervensi yang paling efektif untuk membantu mereka.
Bahkan di Perguruan Tinggi, Tantangan Itu Masih Ada
Masalah literasi Al-Qur’an juga bukan hanya persoalan anak-anak di TKA atau TPA. Penelitian nasional mengenai indeks kemampuan baca-tulis Al-Qur’an mahasiswa UIN di Indonesia yang dilakukan oleh tim peneliti LPMQ Kementerian Agama menunjukkan bahwa kemampuan baca-tulis Al-Qur’an mahasiswa UIN secara nasional berada pada tingkat sedang. Penelitian tersebut dilakukan secara kuantitatif untuk memetakan kemampuan, faktor penyebab, dan upaya peningkatannya.
Temuan tersebut memberi pesan penting.
Artinya, problem literasi Al-Qur’an tidak otomatis selesai hanya karena seseorang telah melewati pendidikan dasar dan menengah. Kemampuan membaca Al-Qur’an harus dibangun secara berkelanjutan.
Karena itu, agenda Merdeka dari Buta Aksara Al-Qur’an tidak boleh hanya menjadi program anak-anak. Ia harus menjadi agenda pendidikan sepanjang hayat. Mulai dari anak usia dini, pelajar, mahasiswa, pemuda, orang tua hingga masyarakat umum.
Pidato Presiden Prabowo: Pembangunan Manusia Harus Menjadi Prioritas
Dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI tanggal 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sebuah pesan yang sangat relevan dengan agenda pemuda masjid:
“Pembangunan yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusia.”
Presiden kemudian menjelaskan bahwa pembangunan manusia dimulai dari kebutuhan paling dasar, termasuk gizi dan pendidikan. Pemerintah melanjutkan Program Makan Bergizi Gratis, memperbaiki sekolah dalam skala besar, memperluas akses teknologi pendidikan, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Pesan tersebut sesungguhnya membuka ruang yang sangat besar bagi masyarakat sipil. Sebab pembangunan manusia bukan hanya pekerjaan pemerintah.
Presiden sendiri menegaskan bahwa pembangunan bangsa bukan pekerjaan Presiden seorang diri atau pemerintah saja, melainkan kerja sama lembaga negara, pemerintah pusat dan daerah serta seluruh elemen masyarakat.
Di sinilah pemuda masjid harus hadir.
Dari “Anak Sehat dan Cerdas” Menjadi “Anak Sehat, Cerdas dan Berkarakter”
Jangan Hanya Membangun Manusia yang Kompeten, Bangun Manusia yang Berkarakter
Presiden Prabowo dalam pidatonya mengaitkan program gizi dengan kemampuan anak untuk belajar dan berkembang. Pemerintah juga menyampaikan capaian perbaikan puluhan ribu sekolah, digitalisasi pembelajaran, layar pintar interaktif, dan akses terhadap konten pendidikan.
Kita tentu menyambut baik arah tersebut.
Namun pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada healthy body dan smart brain. Kita membutuhkan healthy body, smart brain, strong character and spiritual foundation.
Anak yang kenyang harus mendapatkan pendidikan. Anak yang berpendidikan harus mendapatkan karakter. Anak yang cerdas harus memiliki integritas. Dan anak yang menguasai teknologi harus memiliki nilai yang membimbingnya menggunakan teknologi untuk kebaikan. Bagi umat Islam, salah satu fondasi nilai tersebut adalah Al-Qur’an.
Karena itu, gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an sesungguhnya dapat ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan manusia Indonesia.
Bukan agenda yang berdiri sendiri. Bukan pula agenda yang berhadap-hadapan dengan agenda pendidikan nasional.
Sebaliknya, ia merupakan kontribusi masyarakat Muslim dalam memperkuat manusia Indonesia yang berilmu dan berkarakter.
Presiden Mendorong Bahasa Asing, Pemuda Masjid Harus Mendorong Literasi Al-Qur’an
Ada bagian menarik dari pidato Presiden Prabowo yang sangat relevan untuk direnungkan.
Presiden menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa asing perlu dimulai sejak kelas 1 SD. Ia menyebut bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis dan Rusia sebagai bahasa yang perlu dipelajari sesuai kebutuhan dan perkembangan dunia.
Ini adalah pesan yang sangat jelas:
Anak Indonesia harus dipersiapkan menjadi warga dunia. Mereka harus mampu berkomunikasi lintas bangsa. Mereka harus memiliki kompetensi global. Mereka harus siap memasuki dunia kerja internasional.
Tetapi ada satu pertanyaan yang perlu kita tambahkan:
Jika anak Indonesia harus mampu membaca dunia dalam berbagai bahasa, bukankah anak Muslim Indonesia juga harus mampu membaca Al-Qur’an sebagai sumber nilai kehidupannya?
Jangan sampai anak kita fasih berbahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang atau bahasa asing lainnya, tetapi masih terbata-bata membaca Al-Qur’an.
Bukan berarti kita harus mempertentangkan keduanya.
Justru sebaliknya:
Global competence harus berjalan bersama spiritual competence. Digital literacy harus berjalan bersama Qur’anic literacy. Kecerdasan intelektual harus berjalan bersama kecerdasan moral.
Inilah tantangan besar pendidikan Indonesia menuju 2045.
Sekolah Rakyat dan Pesan “Tidak Boleh Ada Anak yang Tertinggal”
Presiden juga menyoroti pembangunan Sekolah Rakyat sebagai strategi untuk memutus lingkaran kemiskinan.
Dalam pidatonya, Presiden menceritakan seorang anak bernama Muhammad Rizky Pratama yang ketika masuk Sekolah Rakyat belum lancar membaca dan belum mampu berhitung dengan baik. Setelah mendapatkan kesempatan pendidikan, ia kembali belajar dan menata masa depannya.
Kisah itu menyampaikan sebuah prinsip penting:
Tidak boleh ada anak Indonesia yang ditinggalkan.
Prinsip ini juga harus berlaku dalam literasi Al-Qur’an.
Tidak boleh ada anak di pelosok desa yang tidak mendapatkan kesempatan belajar Al-Qur’an.
Tidak boleh ada anak dari keluarga miskin yang tertinggal karena tidak memiliki akses guru mengaji.
Tidak boleh ada remaja yang merasa terlambat belajar Al-Qur’an.
Tidak boleh ada orang dewasa yang malu belajar membaca Al-Qur’an karena usianya. Sebab belajar tidak mengenal kata terlambat.
Tetapi ada satu pertanyaan lanjutan yang tidak kalah penting:
Di tengah ikhtiar menjadikan anak Indonesia mampu berkomunikasi dengan dunia, apakah kita juga memastikan mereka mampu berkomunikasi dengan nilai-nilai luhur agamanya sendiri?
Di sinilah masjid dan pemuda masjid memiliki ruang pengabdian yang sangat strategis.
Masjid: Infrastruktur Sosial yang Sudah Ada
Di sinilah Indonesia memiliki sebuah kekuatan sosial yang luar biasa: masjid.
Kita tidak perlu selalu membangun infrastruktur baru untuk memulai gerakan literasi Al-Qur’an.
Infrastrukturnya sudah ada.
Masjid ada di tengah masyarakat.
Guru mengaji ada.
Pemuda remaja masjid ada.
TAAM, TKA, TPA dan TQA telah berkembang di berbagai daerah.
Yang kita perlukan adalah penguatan ekosistem, standardisasi, data, kompetensi, digitalisasi dan kolaborasi.
Badan Komunikas Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) melalui Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur’an (LPPTKA) memang telah lama memberikan perhatian terhadap gerakan membaca, menulis dan memahami Al-Qur’an melalui TKA, TPA dan TQA.
Dengan kata lain, gagasan ini bukan gagasan yang tiba-tiba muncul. Ia merupakan bagian dari DNA perjuangan BKPRMI sejak lama.
Yang perlu dilakukan sekarang adalah membawa gerakan tersebut ke level baru.
Dari gerakan pendidikan menjadi gerakan literasi nasional.
Dari aktivitas lokal menjadi gerakan terukur dan berbasis data.
Dari metode konvensional menjadi hybrid education yang menggabungkan masjid, guru, keluarga dan teknologi.
Dari TKA-TPA Menuju Ekosistem Qur’anic Literacy
Kita perlu mengembangkan paradigma baru. TKA dan TPA jangan hanya dipandang sebagai tempat anak belajar mengaji. Ia harus menjadi pusat pembentukan karakter generasi.
Di dalamnya ada:
Pertama, Qur’anic literacy.
Anak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar.
Kedua, Qur’anic understanding.
Anak mulai memahami pesan dan nilai Al-Qur’an sesuai tingkat usianya.
Ketiga, Qur’anic character.
Nilai Al-Qur’an diterjemahkan dan diwujudkan menjadi akhlak sehari-hari.
Keempat, digital literacy.
Anak dibekali kemampuan menggunakan teknologi secara sehat dan produktif.
Kelima, social literacy.
Anak belajar peduli terhadap lingkungan, masyarakat dan bangsa.
Dengan demikian, tujuan akhirnya bukan sekadar “anak bisa membaca Al-Qur’an”, tetapi: “anak mampu membaca, memahami, menghayati dan mengamalkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.”
Pemuda Masjid Harus Naik Kelas
Agenda ini membutuhkan pemuda.
Mengapa?
Karena pemuda adalah generasi yang paling dekat dengan teknologi, kreativitas dan perubahan sosial.
Pemuda masjid tidak boleh hanya menjadi panitia Ramadan.
Tidak boleh hanya menjadi pengurus acara.
Tidak boleh hanya bertugas mengatur sound system.
Pemuda masjid harus menjadi social entrepreneur of faith.
Mereka harus menjadi guru pendamping.
Mentor digital.
Content creator edukasi Al-Qur’an.
Penggerak komunitas.
Pengembang aplikasi.
Pengelola data.
Fasilitator keluarga.
Dan penghubung antara masjid dengan dunia pendidikan, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Inilah transformasi pemuda masjid dari event organizer menjadi movement maker. Mereka harus menjadi aktor perubahan sosial.
Digitalisasi: Tantangan Sekaligus Peluang
Presiden dalam pidatonya menyampaikan tentang penggunaan layar pintar interaktif, akses konten pembelajaran, studio pembelajaran terpusat dan teknologi digital untuk memperluas akses pendidikan.
Pesan ini sangat relevan dengan agenda BKPRMI.
Jika sekolah memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses pembelajaran, maka masjid juga harus melakukan hal yang sama.
Mengapa tidak ada: Digital TPA?
Mengapa tidak ada: Qur’an Learning Platform?
Mengapa tidak ada: Database Nasional Guru Mengaji Al-Qur’an?
Mengapa tidak ada: Pemetaan Literasi Al-Qur’an berbasis masjid?
Mengapa tidak ada: Kartu Digital Guru Mengaji Al-Qur’an dan Santri?
Mengapa tidak ada sistem yang memungkinkan anak belajar membaca Al-Qur’an secara luring di masjid sekaligus mendapatkan pendampingan digital di rumah?
Teknologi tidak boleh menjauhkan anak dari Al-Qur’an.
Teknologi justru harus menjadi jembatan anak menuju Al-Qur’an.
Dari Literasi Al-Qur’an Menuju Kemandirian Pemuda
Pidato Presiden juga memberikan perhatian besar terhadap ekonomi rakyat, desa, UMKM, koperasi dan peran anak muda.
Presiden menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia berada di desa, termasuk pada anak-anak muda yang membangun usaha di kampung mereka. Pemerintah juga mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat ekonomi rakyat.
Bagi BKPRMI, pesan ini memiliki relevansi langsung dengan agenda GERBANG EMAS—Gerakan Bangun Ekonomi Masjid.
Masjid tidak boleh hanya menjadi pusat ibadah. Masjid harus menjadi pusat: pendidikan, pemberdayaan, ekonomi umat, kreativitas pemuda, ketahanan sosial, dan pembentukan karakter.
Karena itu, literasi Al-Qur’an dan pemberdayaan ekonomi bukan dua agenda yang terpisah.
Keduanya bertemu pada satu tujuan: “Membangun manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri dan produktif.”
Saatnya “Merdeka Buta Aksara Al-Qur’an” Menjadi Gerakan Nasional
Maka momentum 81 tahun kemerdekaan harus menjadi momentum untuk melahirkan gerakan baru:
GERAKAN MERDEKA DARI BUTA AKSARA AL-QUR’AN
Gerakan ini harus memiliki target yang jelas. Bukan hanya slogan. Bukan hanya seremoni. Bukan hanya lomba. Tetapi gerakan yang berbasis data dan berbasis masjid.
Setidaknya terdapat tujuh agenda nasional.
1. Satu Data Literasi Al-Qur’an
Melakukan pemetaan kemampuan baca Al-Qur’an anak, remaja dan masyarakat berbasis masjid.
2. Satu Masjid Satu Program Literasi Al-Qur’an
Setiap masjid memiliki program pembelajaran Al-Qur’an yang terstruktur dan berkelanjutan.
3. Satu Guru Mengaji Terus Berkembang
Guru mengaji mendapatkan pelatihan, peningkatan kompetensi, pengakuan dan sertifikasi sesuai kebutuhan, termasuk pendapatan kesejahteraan yang layak dan lebih manusiawi.
4. Digitalisasi TAAM, TKA, TPA dan TQA
Membangun ekosistem digital untuk pembelajaran, administrasi, monitoring dan evaluasi.
5. Pemuda Masjid sebagai Qur’anic Literacy Volunteer
Pemuda menjadi relawan literasi Al-Qur’an di lingkungan masing-masing.
6. Gerakan Al-Qur’an untuk Semua
Tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan ekonomi, wilayah, usia atau kondisi sosial.
7. Target Indonesia Emas 2045
Pada 2045, kita ingin melihat generasi Indonesia bukan hanya melek huruf, melek teknologi dan melek bahasa asing, tetapi juga melek Al-Qur’an dan melek nilai.
Dari Pidato Presiden ke Aksi Pemuda Masjid
Ada benang merah yang sangat kuat antara pidato Presiden Prabowo dan agenda BKPRMI.
Presiden berbicara tentang pembangunan manusia. BKPRMI bergerak membangun manusia melalui masjid.
Presiden berbicara tentang pendidikan yang berkualitas. BKPRMI memiliki jaringan pendidikan Al-Qur’an berbasis masjid.
Presiden berbicara tentang digitalisasi pendidikan. BKPRMI harus membawa TKA-TPA-TQA memasuki ekosistem digital.
Presiden berbicara tentang anak-anak yang tidak boleh ditinggalkan. BKPRMI bergerak menjangkau anak-anak melalui masjid dan komunitas.
Presiden berbicara tentang kekuatan ekonomi desa dan pemuda. BKPRMI mengembangkan GERBANG EMAS atau Gerakan Bangun Ekonomi Masjid untuk menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Presiden berbicara tentang gotong royong seluruh elemen bangsa. BKPRMI siap menjadi bagian dari gotong royong tersebut.
Dengan demikian, pemuda masjid bukan berada di luar arus pembangunan nasional. Pemuda masjid adalah bagian dari arus utama pembangunan manusia Indonesia.
Kemerdekaan Harus Menghasilkan Manusia yang Merdeka
Pada akhirnya, pertanyaan “81 Tahun Merdeka, Masihkah Anak Indonesia Buta Aksara Al-Qur’an?” bukanlah pertanyaan untuk mencari siapa yang salah.
Ini adalah pertanyaan tentang legacy.
Apa yang akan kita wariskan kepada generasi 2045?
Gedung?
Jalan?
Teknologi?
Kekayaan?
Semua penting.
Tetapi warisan terbesar sebuah bangsa adalah manusianya. Manusia yang sehat. Manusia yang cerdas. Manusia yang produktif. Manusia yang berkarakter. Manusia yang berintegritas. Manusia yang mencintai tanah air. Dan bagi umat Islam Indonesia, manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Al-Qur’an.
Sebab kita tidak ingin mencetak generasi yang hanya mampu membaca dunia, tetapi tidak mampu membaca petunjuk kehidupannya.
Kita tidak ingin melahirkan generasi yang sangat mahir menggunakan artificial intelligence tetapi miskin moral intelligence.
Kita tidak ingin melahirkan generasi yang fasih berbagai bahasa dunia tetapi kehilangan bahasa hati dan nilai.
Kita ingin melahirkan generasi yang global minded, digitally literate, economically productive, socially responsible, nationally committed dan spiritually grounded.
Inilah manusia Indonesia yang kita butuhkan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dari Masjid, Kita Mulai
Maka, pada usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, mari kita mulai dari tempat yang paling dekat dengan masyarakat: masjid.
Mari kita pastikan setiap masjid menjadi tempat anak-anak belajar.
Mari kita pastikan setiap pemuda memiliki ruang untuk berkontribusi.
Mari kita pastikan guru mengaji mendapatkan penghargaan peningkatan kompetensi dan kesajahteraan yang layak.
Mari kita pastikan teknologi menjadi alat memperluas akses Al-Qur’an.
Dan mari kita bangun sebuah gerakan nasional yang sederhana tetapi sangat besar maknanya: Satu Masjid, Satu Gerakan Merdeka dari Buta Aksara Al-Qur’an.
Jika satu masjid membina puluhan anak, ribuan masjid membina ratusan ribu anak.
Jika puluhan ribu masjid bergerak, jutaan anak dapat disentuh.
Dan jika seluruh ekosistem masjid, keluarga, sekolah, pesantren, pemerintah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi dan dunia usaha bergerak bersama, maka gerakan yang hari ini tampak kecil dapat menjadi gerakan peradaban.
Presiden Prabowo menutup pidatonya dengan seruan:
“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Maka mari kita jawab seruan itu dengan kerja nyata.
Merdeka bangsanya.
Merdeka pendidikannya.
Merdeka ekonominya.
Merdeka pemudanya.
Merdeka pikirannya.
Merdeka akhlaknya.
Dan bagi generasi Muslim Indonesia:
MERDEKA DARI BUTA AKSARA AL-QUR’AN.
Dari masjid pemuda bergerak.
Dari Al-Qur’an karakter dibangun.
Dari karakter peradaban dilahirkan.
Dan dari generasi yang sehat, cerdas, berakhlak, mandiri dan berdaya saing, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita—tetapi sebuah keniscayaan yang harus kita perjuangkan bersama.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar