Empat Pilar Keluarga Sakinah, Bekal Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta dan Keberkahan - DPW BKPRMI JAWA TIMUR

Terbaru

Sabtu, 08 Agustus 2026

Empat Pilar Keluarga Sakinah, Bekal Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta dan Keberkahan

Empat Pilar Keluarga Sakinah, Bekal Membangun Rumah Tangga Penuh Cinta dan Keberkahan

Ustadzah Imroatin Sururi, M.H


Gresik — Pembahasan mengenai keluarga sakinah kembali menghadirkan suasana hangat dan penuh makna dalam kegiatan Sinau Bareng Sakinah Center. Pada materi kedua, Ustadzah Imroatin Sururi, M.H., mengajak para peserta untuk memahami fondasi penting dalam membangun keluarga sakinah.

Dalam penyampaiannya, Bu Iim—sapaan akrab Ustadzah Imroatin Sururi—menjelaskan bahwa keluarga sakinah tidak hadir begitu saja. Ia membutuhkan komitmen, cinta, penghormatan, komunikasi, serta kesediaan untuk terus belajar bersama.



Empat Pilar Keluarga Sakinah

Bu Iim menjelaskan setidaknya ada empat pilar utama yang menjadi fondasi dalam membangun keluarga sakinah.

Pertama, Berpasangan (Zawaj)

Pernikahan merupakan ikatan berpasangan yang menjadi jalan bagi laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. Keduanya bukan sekadar hidup bersama, tetapi menjadi pasangan yang saling mendukung dalam menjalankan kehidupan dan ibadah.

Kedua, Janji Kokoh (Miitsaqan Ghalidzan)

Pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kokoh. Karena itu, rumah tangga harus dibangun dengan kesungguhan, tanggung jawab, dan komitmen untuk menjaga amanah pernikahan dalam suka maupun duka.

Ketiga, Saling Cinta dan Saling Menghormati

Keluarga sakinah membutuhkan cinta yang diwujudkan dalam tindakan. Suami dan istri perlu saling menjaga, saling menghargai, saling meridhai, serta menerapkan prinsip mu'asyarah bil ma'ruf—memperlakukan pasangan dengan cara yang baik dan penuh kemuliaan.

“Cinta dalam keluarga bukan hanya tentang kata-kata, tetapi bagaimana kita saling menjaga, menghormati dan membuat pasangan merasa aman serta dihargai,” menjadi pesan penting yang disampaikan dalam materi tersebut.

Keempat, Musyawarah untuk Sakinah

Setiap keluarga tentu akan menghadapi persoalan. Namun, masalah bukan alasan untuk saling menyalahkan. Justru di sinilah pentingnya musyawarah.

Bu Iim mengajarkan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan kebaikan keluarga hendaknya dibicarakan bersama. Dengan musyawarah, suami dan istri belajar mendengarkan, memahami sudut pandang pasangan, dan mencari jalan keluar yang terbaik.

“Ijazah” Doa Saat Menghadapi Masalah Keluarga

Suasana semakin menarik ketika menjelang akhir materi, Bu Iim berbagi sebuah “ijazah” atau kunci resep doa yang dapat diamalkan ketika keluarga sedang menghadapi persoalan.


Beliau mengajak para peserta membaca:

يَا رَبِّي صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

وَافْتَحْ مِنَ الْخَيْرِ كُلَّ مُغْلَقٍ

“Yā Rabbī shalli ‘alā Muhammad,

waftah minal khairi kulla mughlaq.”


Yang bermakna memohon kepada Allah agar segala pintu kebaikan yang masih tertutup dibukakan melalui keberkahan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Pesan ini menjadi penutup yang begitu indah: ketika pintu-pintu solusi terasa tertutup dan persoalan keluarga terasa berat, jangan berhenti mengetuk pintu Allah.

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tidak pernah memiliki masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang belajar menghadapi masalah bersama, saling menguatkan, bermusyawarah, dan selalu kembali kepada Allah.

Dari empat pilar tersebut, peserta diajak menyadari bahwa membangun keluarga sakinah adalah sebuah perjalanan panjang. Ada cinta yang harus dirawat, janji yang harus dijaga, pasangan yang harus dihormati, serta setiap persoalan yang perlu diselesaikan dengan musyawarah dan doa.

Semoga ilmu yang disampaikan Ustadzah Imroatin Sururi, M.H. menjadi bekal bagi para peserta untuk menghadirkan keluarga yang semakin harmonis, penuh cinta, dan senantiasa dinaungi keberkahan Allah SWT. (Nurul Misbachah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad