Filosofi Selembar Kertas, Bunda Tri Ajak Kader Sakinah Center Sulap 'Bekas' Perjalanan Menjadi Manfaat
Bunda Tri, Dirwil LPKS BKPRMI Jawa Timur
Gresik – Perhelatan akbar Sinau Bareng Sakinah Center yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Keluarga Sakinah (LPKS) BKPRMI Jawa Timur di kawasan pesisir Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, ditutup dengan sesi renungan pengasuhan (parenting) yang menyentuh hati pada Ahad (9/8/2026).
Direktur Wilayah (Dirwil) LPKS BKPRMI Jawa Timur, Ustazah Tri Eko Sulistiowati—yang akrab disapa Bunda Tri—hadir langsung sebagai narasumber pamungkas untuk menyampaikan materi refleksi akhir .
Dalam penyampaiannya yang komunikatif, Bunda Tri mengajak puluhan kader utusan daerah dan para orang tua untuk memandang setiap perubahan, kegagalan, maupun kesalahan dalam proses mendidik anak bukan sebagai sesuatu yang harus disesali. Sebaliknya, dinamika tersebut harus dipandang sebagai fondasi berharga untuk melahirkan kemanfaatan baru yang jauh lebih besar.
Materi BCM Bunda Tri dan Ami
Bunda Tri mengilustrasikan proses pembentukan karakter anak melalui analogi atau filosofi sederhana tentang selembar kertas putih yang polos.
"Kertas yang awalnya polos dan putih, setelah dilipat-lipat pasti akan meninggalkan bekas lipatan. Begitu juga dengan kehidupan dan anak-anak kita. Apa yang diberikan oleh orang tua maupun guru, baik berupa nasihat, kasih sayang, maupun keteladanan, akan senantiasa meninggalkan warna dan bekas yang mendalam di dalam diri mereka," urai Bunda Tri di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa setiap anak terlahir dengan membawa cerita, pengalaman, kelebihan, serta kekurangan yang unik. Ketika seorang anak melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan yang meninggalkan "bekas" psikologis, orang tua dan pendidik dilarang keras untuk menyerah atau memberikan pelabelan (labeling) negatif kepada anak.
"Kalau barang sudah berbekas, jangan dibuang. Ubahlah menjadi barang yang bermanfaat," tegas Bunda Tri . Pesan kuat ini menjadi pengingat bagi para guru mengaji dan orang tua bahwa tugas utama pendidik adalah membersamai anak untuk mengubah pengalaman menjadi pelajaran berharga, serta mengolah kesalahan menjadi perbaikan karakter yang konsisten.
Materi reflektif ini menjadi pelengkap sekaligus penutup yang sangat berkesan dari seluruh rangkaian panjang Sinau Bareng dua hari di Gresik. Melalui petuah akhir dari Dirwil LPKS Jatim tersebut, para peserta diajak pulang ke kabupaten/kota masing-masing dengan membawa cara pandang (mindset) baru; bahwa mendidik anak bukanlah tentang menuntut kesempurnaan tanpa cela, melainkan tentang bagaimana mengolah setiap lipatan dan bekas perjalanan hidup menjadi sebuah mahakarya generasi Qur'ani yang bernilai tinggi dan berdaya guna di tengah masyarakat. (Nurul Misbachah)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar