Luka Batin Pascabencana: Mengapa Masjid Harus Jadi Episentrum Trauma Healing?
Sumatera — Saat bencana menghantam, perhatian dunia sering kali tertuju pada bangunan yang runtuh dan logistik yang menipis. Namun, ada satu kerusakan yang sering tak kasatmata namun dampaknya jauh lebih destruktif: trauma psikologis. Inilah yang mendorong DPP BKPRMI menginisiasi Roadshow Trauma Healing tahap kelima sebagai bagian dari misi BKPRMI Peduli.
Pemulihan bencana bukan sekadar soal membangun kembali tembok yang roboh, melainkan tentang menyembuhkan jiwa yang terluka. Di Banda Aceh, tepatnya di Masjid Raya Baiturrahman pada Ahad (11/1/2026), kami memulai langkah besar ini melalui Training of Trainer (TOT) Dasar Trauma Healing. Mengapa harus melalui guru ngaji dan kader masjid?
Jawabannya sederhana: kepercayaan dan keberlanjutan.
Selama ini, bantuan psikososial sering kali datang dan pergi seiring berakhirnya masa tanggap darurat. Namun, kader BKPRMI dan guru-guru Al-Qur'an adalah mereka yang tetap tinggal bersama warga. Dengan membekali 100 relawan lokal, kami sedang menanam benih "penyembuh" yang akan mendampingi masyarakat di Pidie, Gayo Lues, hingga Sumatera Utara secara berkelanjutan.
Pendekatan yang dilakukan oleh BKPRMI tidak berdiri di satu sisi saja akan tetapi mengintegrasikan tiga pilar utama:
Penguatan Spiritual: Menemukan ketenangan melalui tilawah dan ibadah.
Pemulihan Emosional: Memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk kembali tersenyum.
H. Nanang Mubarok Ketua umum DPP BKPRMI menyatakan "Tidak hanya membawa teori, tim kami yang terdiri dari Direktur Nasional LPPTKA BKPRMI H. Gunawan HS hingga jajaran DPW Sumatera Utara, juga membawa perangkat nyata. Mulai dari Al-Qur’an, buku Iqro, hingga alat tulis untuk lembaga pendidikan seperti TKA dan TPA. Ini adalah pesan kuat bahwa pendidikan agama tidak boleh berhenti meskipun di tengah duka sebagai bentuk penguatan mental , membangun optimisme bahwa hari esok akan lebih baik.
Lebih lanjut ia mengatakan"Masjid harus kembali ke fungsinya sebagai pusat peradaban, termasuk sebagai pusat ketangguhan umat. Melalui program ini, BKPRMI ingin membuktikan bahwa masjid adalah tempat pertama bagi umat untuk mencari harapan. Kami tidak ingin gerakan ini hanya menjadi seremoni, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk menghadirkan harapan di tengah situasi sesulit apa pun".
Karena pada akhirnya, membangun kembali mental sebuah bangsa dimulai dari menjaga senyum anak-anaknya dan menguatkan iman para orang tuanya. BKPRMI akan terus hadir, menguatkan yang lemah, dan memastikan bahwa masjid tetap menjadi pilar utama ketangguhan umat. (Bunda Tri)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar