Mengolah Kritikan Menjadi Tenaga Perjuangan
Dalam menjalankan sebuah perjuangan, kritik adalah keniscayaan. Bagi seorang kader, kritik bukanlah musuh yang harus dihindari, melainkan bagian integral dari proses pendidikan jiwa dan pendewasaan diri. Sikap alergi terhadap kritik justru akan menghambat pertumbuhan dan mematikan potensi.
Kritik memiliki dua sisi manfaat. Kritik yang disampaikan dengan niat baik dan konstruktif berfungsi sebagai cermin yang membantu kita memperbaiki langkah, meluruskan tujuan, dan menyempurnakan strategi dakwah. Kritik jenis ini adalah pupuk yang menyuburkan komitmen dan memastikan arah perjuangan tetap berada pada rel yang benar.
Di sisi lain, kritik yang mungkin terasa tidak adil, tendensius, atau bahkan menyakitkan, juga memiliki peran penting. Kritik semacam ini berfungsi sebagai latihan keteguhan mental dan kesabaran. Ia menguji seberapa kuat fondasi prinsip yang kita yakini dan seberapa tangguh mentalitas kita dalam menghadapi tekanan.
Bagi kader BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia), semua bentuk kritik—baik yang membangun maupun yang menjatuhkan—harus diserap dan diolah menjadi bahan bakar positif. Kritik harus menjadi energi pendorong untuk semakin memperkuat komitmen dakwah, bukan alasan untuk menyerah atau mundur.
Orang besar bukanlah mereka yang luput dari kritik, melainkan mereka yang mampu menggunakan kritik tersebut sebagai batu loncatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, bijaksana, dan tangguh.
Sikap ini sejalan dengan tuntunan Al-Qur'an dalam Surah Al-Furqan ayat 63, yang mengajarkan kerendahan hati dan kebijaksanaan dalam merespons interaksi sosial:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka menjawab dengan kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)
Mengutip nasihat bijak dari Imam Al-Ghazali, "Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya." Mengenali diri berarti memahami kelemahan dan kekuatan, serta menyadari bahwa kritik adalah sarana eksternal untuk membantu proses introspeksi diri tersebut.
Dengan demikian, mengelola kritik secara bijak akan mengantarkan kita pada pemahaman diri yang lebih mendalam, yang pada akhirnya akan memperkuat hubungan kita dengan Sang Pencipta dan memantapkan langkah perjuangan kita.
Penulis : Salihuddin adalah Wadirnas LPPSDM DPP BKPRMI.Ahad, 17 Muharram 1447 H


Tidak ada komentar:
Posting Komentar